Selasa, 09 September 2014

6.JUKUNG DAYAK MA'ANYAN



6.
JUKUNG dayak ma’anyan
(Dari Dataran Rendah Barito ke Madagaskar sampai ke Negeri Erik Peterson)

“Nenek moyangku seorang pelaut
Gemar mengarung ombak samudera
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa…”

Itulah penggelan lagu, yang sering aku nyanyikan. Semasa di Taman Kanak-Kanak dulu. Lagu itu sering menjadi irama hatiku, ketika sedang ikut kakek naik jukung. Di aliran sungai yang sudah ada entah sejak kapan. Aku dan Legawa, waktu libur selalu ikut kakek pergi ke sawah bercocok tanam. Atau memetik hasilnya. Untuk makan siang biasanya kami mencari ikan, di sungai tua ini. Sungai Terasi demikian nama sungai tua ini. Terketak di Pulau Kadap desa Kaludan, kampung kelahiran kakekku.
            “Di sini dahulu abahnya Si Irus, paman Rapii menemukan sebuah jukung sudur purbakala. Jukung itu sangat panjang, mencapai 14,5 meter dan lebarnya lebih 1,5 meter,” kata kakek menunjuk ke arah tepian sungai Tarasi.
            “Wow… besar sekali, tapi gimana keadaannya kek?”
            “Masih dalam keadaan utuh, yah walaupun sudah sangat tua sekali,” jawab kakek sambil memainkan penanggak menjalankan jukung.
            “Berapa tahun umurnya kek?’’ tanya Legawa, yang selalu tertarik tentang umur suatu benda, atau suatu tempat.
            “Tidak tahunan lagi Cu, tetapi sudah berumur tidak kurang  5 abad, atau 500 tahunan,”
            “Wow…tuha - nyaaaa,” keluar logat asli Legawa kalau kaget.
            “Mengapa bisa sekuat itu kek?” bukannya aku ragu, tetapi…
            “Jukung sudur itu terbuat dari kayu Taras Cangal, tergolong kayu kuat kala itu,”
            “Siapa yang mampu menghitung umurnya Kek?”
            “Menurut hasil sebuah penelitian yang dilakukan oleh…pusat…apa yah…dari Yogyakarta, coba nanti kamu tanyakan kepada abahmu. Nanti kalau kita sudah sampai di ladang,”
            “Darimana abah tahu kek, bukankah beliau bukan penduduk sini?” tanyaku agak heran.
            “Jukung itu ditemukan,kalau tidak salah tahun 1994. Setahun setelah abahmu bertugas disini. Atau beberapa bulan setelah melamar ibumu. Dan kebetulannya lagi saudara abahmu, yang juga wartawan, surat kabar harian daerah ini, yang meliput peristiwa itu. Peristiwa penemuan jukung tersebut, oleh warga desa Kaludan,,” Kakek meyakinkan.
            “Seminggu sebelum abahmu menikahi ibumu. Jukungnya pernah juga tenggelam disini. Bersama paman dan teman-temannya,” kisah kakek mengingatkanku kepada cerita abah. Kata abah Jukung Sudur Sungai Tarasi itu bisa kita lihat di Museum Lambung Mangkurat di Banjarbaru.
            Sungai Tarasi merupakan urat nadi perekonomian masyarakat. Terutama masyarakat desa Banjang dan desa Kaludan. Sungai ini menjadi sumber mata pencaharian warga kampung ini. Bercocok tanam dan mencari ikan. Beragam spesies ikan bisa ditemukan di sungai ini. Jukung sudur itulah sarana penduduk beraktivitas di sungai ini. Maklum di daerahku tak terhitung banyaknya jumlah sungai. Pantas jika mendapat julukan pulau seribu sungai.
            Pulau seribu sungai, itulah julukan untuk Kalimantan. Pulau dimana aku tinggal.  Aku tinggal bagian selatan pulau Borneo ini. Di Kalimantan Selatan, sungai Barito merupakan sungai terpanjang dan terbesar. Panjangnya antara 750 km sampai 900 km. Mata airnya berasal dari pedalaman tengah, Kalimantan. Dan sungai ini dihubungkan oleh sebuah anjir (kanal atau sungai buatan). Dengan dua buah sungai besar di sebelah Barat yaitu sungai Kapuas dan sungai Kahayan. Panjangnya masing-masing 600 km. Bagian barat bermuara ke Laut Jawa, Sedangkan dibagian timur bermuara ke Selat Makassar. Sehingga bagi masyarakat di pulau ini, angkutan air seperti jukung, kelotok, perahu, sampai kapal sudah

Klotok Barang, dari namanya kita sudah bisa mengetahui fungsi jukung yang satu ini. Ukurannya cukup beragam dari kecil, sedang, hingga besar dengan ukuran panjang antara 9 – 17 meter.
Jukung Nelayan, jukung penangkap ikan di kawasan Laut Jawa ini,  teruji melaut selama 3 – 4 minggu. Meskipun tanpa penyeimbang. Penapihnya bisa sampai 7 dan 9 keping papan. Jukung ini dilengkapi juga 4 ruang penyimpan ikan. Juga kamar mesin, kamar berkapasitas 4 orang, dek kedap air untuk menyimpan makanan. Perahu ini juga telah dilengkapi teknologi informasi, berupa radio penerima dan pengirim berita.
Jukung Tiung, dibuat tidak  mengutamakan kerapian atau kehalusan, melainkan lebih mengutamakan kekuatan dan daya angkut. Jukung ini difungsikan untuk mengangkut barang dalam jumlah banyak. Biasanya tidak dilengkapi mesin karena digandeng oleh kapal tunda.
Jukung Raksasa, sebagaimana tersirat dari namanya perahu iini berukuran mencapai 23,5 meter dengan lebar 5 meter. Penapihnya mencapai 15 keping papan dibagian tengah, dan 16-18 keping pada bagian haluan dan buritan. Memiliki dek dengan 2 lantai.
Motorbot, sarana air angkutan cepat ini dikembangkan dari bakal jukung. Kecepatannya bisa mencapai 12 sampai 16 knot, karena dilengkapi dengan mesin disel 6 silinder. Panjang keseluruhannya bisa mencapai 16 – 25 meter. Lebar 2,3 sampai 3 meter. Kapal ini mampu menampung penumpang antara 75 orang untuk ukuran kecil dan 140 orang untuk kapal berukuran besar.
Masih ingatkah kamu bahwa knot adalah satuan ukuran kecepatan geraakan kapal dalam mil laut per jam (1 knot = 1852 m)
tidak asing lagi.
            Ini merupakan pemandangan biasa. Alat transportasi air ini telah sejak lama digunakan masyarakat pulau Kalimantan. Bahkan konon, telah digunakan sejak zaman besi pada abad ke -7 Masehi hingga kini. Hingga kini, yang membuat aku merasa bangga bahwa nenek moyangku suku Ma’anyan yang bermukim didataran rendah Barito telah pernah melakukan perjalanan (migrasi) sampai ke Madagaskar, sekitar tahun 600. Di duga mereka melalui Sumatera, ke India, terus ke Arabia, akhirnya tiba di Afrika, lalu menemukan pulau Madagaskar. Kemudian menetap disana, sebagai penghuni pulau yang belum berpenduduk tersebut. Pulau Madagaskar merupakan pulau ke 4 terbesar di dunia setelah Pulau Kalimantan. Pulau ini berada di kawasan Banua Afrika. Sebuah perjalanan yang sangat panjang yang telah dilakukan suku Ma’anyan.
            Tapi mengunakan apa ya mereka berimigrasi? Jukung, perahu, atau kapal? Besar atau kecil? Bagaimana dengan Jukung Penes?
            Jukung Penes merupakan kapal atau perahu yang dibuat dari bangun jukung. Jukung adalah istilah yang digunakan oleh seluruh masyarakat dataran rendah Barito dan digunakan untuk semua jenis perahu/badan kapal. Mulai sekitar 50 tahun silam ketika mesin kapal belum diperkenalkan.          
            Ada baiknya kuperkenalkan jenis-jenis Jukung kepada kalian. tapi sebelumnya akan aku perkenalkan dulu kawanku Kakek Erik Petersen asal Denmark. Dia adalah seorang arsitek perencana yang memilih menetap di Kalimantan Selatan. Orang asing yang sangat terkesan dengan industri pembuatan kapal, perahu dan jukung di daerahku.  Dari dia aku mengenal banyak tentang jenis-jenis jukung ini. Cara membuat, jenis kayu, dan ukuran jukung serta peralatan yang digunakan. Tidak hanya itu saja, kepadaku juga diceritakannya tentang perjalanaan (migrasi) pernah dilakukan oleh nenek moyangku suku Ma’anyan. Yang tadi telah aku ceritakan dan kenalkan kepadamu.
            Aku mengenal Erik Petersen dari Prof.M.P.Lambut, seorang Guru Besar dalam bidang Pendidikan Sastra Budaya, dosen tetap pada Program S-1 Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNLAM. Aku dan dia mempunyai perasaan bersalah yang sama. Kami merasa hanya memberi perhatian yang tidak berarti dan terkesan sambil lalu. Padahal ini merupakan warisan leluhur yang tak ada duanya di dunia. Kami sama-sama merasa malu dengan Erik, dia jauh-jauh dari Negeri Kincir-Belanda hanya untuk ditertawakan, hanya untuk dianggap sebagai orang “aneh” . Dan itu dilakukannya hanya untuk mengenalkan “Jukung” kepada dunia.