6.
JUKUNG dayak ma’anyan
(Dari Dataran Rendah Barito ke
Madagaskar sampai ke Negeri Erik Peterson)
“Nenek moyangku seorang
pelaut
Gemar mengarung ombak samudera
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa…”
Itulah
penggelan lagu, yang sering aku nyanyikan. Semasa di Taman Kanak-Kanak dulu.
Lagu itu sering menjadi irama hatiku, ketika sedang ikut kakek naik jukung. Di aliran
sungai yang sudah ada entah sejak kapan. Aku dan Legawa, waktu libur selalu
ikut kakek pergi ke sawah bercocok tanam. Atau memetik hasilnya. Untuk makan
siang biasanya kami mencari ikan, di sungai tua ini. Sungai Terasi demikian nama sungai tua ini. Terketak di Pulau Kadap
desa Kaludan, kampung kelahiran kakekku.
“Di
sini dahulu abahnya Si Irus, paman Rapii menemukan sebuah jukung sudur purbakala. Jukung itu sangat panjang, mencapai 14,5
meter dan lebarnya lebih 1,5 meter,” kata kakek menunjuk ke arah tepian sungai
Tarasi.
“Wow…
besar sekali, tapi gimana keadaannya kek?”
“Masih
dalam keadaan utuh, yah walaupun sudah sangat tua sekali,” jawab kakek sambil
memainkan penanggak menjalankan jukung.
“Berapa tahun
umurnya kek?’’ tanya Legawa, yang selalu tertarik tentang umur suatu benda,
atau suatu tempat.
“Tidak
tahunan lagi Cu, tetapi sudah berumur tidak kurang 5 abad, atau 500 tahunan,”
“Wow…tuha
- nyaaaa,” keluar logat asli Legawa kalau kaget.
“Mengapa
bisa sekuat itu kek?” bukannya aku ragu, tetapi…
“Jukung
sudur itu terbuat dari kayu Taras Cangal,
tergolong kayu kuat kala itu,”
“Siapa
yang mampu menghitung umurnya Kek?”
“Menurut
hasil sebuah penelitian yang dilakukan oleh…pusat…apa yah…dari Yogyakarta, coba
nanti kamu tanyakan kepada abahmu. Nanti kalau kita sudah sampai di ladang,”
“Darimana
abah tahu kek, bukankah beliau bukan penduduk sini?” tanyaku agak heran.
“Jukung itu
ditemukan,kalau tidak salah tahun 1994. Setahun setelah abahmu bertugas disini.
Atau beberapa bulan setelah melamar ibumu. Dan kebetulannya lagi saudara abahmu,
yang juga wartawan, surat kabar harian daerah ini, yang meliput peristiwa itu.
Peristiwa penemuan jukung tersebut, oleh warga desa Kaludan,,” Kakek
meyakinkan.
“Seminggu
sebelum abahmu menikahi ibumu. Jukungnya pernah juga tenggelam disini. Bersama
paman dan teman-temannya,” kisah kakek mengingatkanku kepada cerita abah. Kata
abah Jukung Sudur Sungai Tarasi itu
bisa kita lihat di Museum Lambung Mangkurat di Banjarbaru.
Sungai
Tarasi merupakan urat nadi perekonomian masyarakat. Terutama masyarakat desa
Banjang dan desa Kaludan. Sungai ini menjadi sumber mata pencaharian warga
kampung ini. Bercocok tanam dan mencari ikan. Beragam spesies ikan bisa
ditemukan di sungai ini. Jukung sudur itulah sarana penduduk beraktivitas di
sungai ini. Maklum di daerahku tak terhitung banyaknya jumlah sungai. Pantas
jika mendapat julukan pulau seribu sungai.
Pulau
seribu sungai, itulah julukan untuk Kalimantan. Pulau dimana aku tinggal. Aku tinggal bagian selatan pulau Borneo ini.
Di Kalimantan Selatan, sungai Barito merupakan sungai terpanjang dan terbesar.
Panjangnya antara 750 km sampai 900 km. Mata airnya berasal dari pedalaman tengah,
Kalimantan. Dan sungai ini dihubungkan oleh sebuah anjir (kanal atau sungai buatan). Dengan dua buah sungai besar di
sebelah Barat yaitu sungai Kapuas dan sungai Kahayan. Panjangnya masing-masing
600 km. Bagian barat bermuara ke Laut Jawa, Sedangkan dibagian timur bermuara
ke Selat Makassar. Sehingga bagi masyarakat di pulau ini, angkutan air seperti jukung,
kelotok, perahu, sampai kapal sudah
|
Klotok Barang, dari
namanya kita sudah bisa mengetahui fungsi jukung yang satu ini. Ukurannya
cukup beragam dari kecil, sedang, hingga besar dengan ukuran panjang antara
9 – 17 meter.
Jukung Nelayan,
jukung penangkap ikan di kawasan Laut Jawa ini, teruji melaut selama 3 – 4 minggu.
Meskipun tanpa penyeimbang. Penapihnya bisa sampai 7 dan 9 keping papan.
Jukung ini dilengkapi juga 4 ruang penyimpan ikan. Juga kamar mesin, kamar
berkapasitas 4 orang, dek kedap air untuk menyimpan makanan. Perahu ini
juga telah dilengkapi teknologi informasi, berupa radio penerima dan
pengirim berita.
Jukung Tiung,
dibuat tidak mengutamakan kerapian
atau kehalusan, melainkan lebih mengutamakan kekuatan dan daya angkut.
Jukung ini difungsikan untuk mengangkut barang dalam jumlah banyak.
Biasanya tidak dilengkapi mesin karena digandeng oleh kapal tunda.
Jukung Raksasa,
sebagaimana tersirat dari namanya perahu iini berukuran mencapai 23,5 meter
dengan lebar 5 meter. Penapihnya mencapai 15 keping papan dibagian tengah,
dan 16-18 keping pada bagian haluan dan buritan. Memiliki dek dengan 2
lantai.
Motorbot,
sarana air angkutan cepat ini dikembangkan dari bakal jukung. Kecepatannya
bisa mencapai 12 sampai 16 knot,
karena dilengkapi dengan mesin disel 6 silinder. Panjang keseluruhannya
bisa mencapai 16 – 25 meter. Lebar 2,3 sampai 3 meter. Kapal ini mampu
menampung penumpang antara 75 orang untuk ukuran kecil dan 140 orang untuk
kapal berukuran besar.
Masih ingatkah kamu bahwa knot adalah satuan ukuran kecepatan
geraakan kapal dalam mil laut per jam (1 knot = 1852 m)
|
Ini
merupakan pemandangan biasa. Alat transportasi air ini telah sejak lama
digunakan masyarakat pulau Kalimantan. Bahkan konon, telah digunakan sejak
zaman besi pada abad ke -7 Masehi hingga kini. Hingga kini, yang membuat aku
merasa bangga bahwa nenek moyangku suku Ma’anyan
yang bermukim didataran rendah Barito telah pernah melakukan perjalanan (migrasi)
sampai ke Madagaskar, sekitar tahun 600. Di duga mereka melalui Sumatera, ke
India, terus ke Arabia, akhirnya tiba di Afrika, lalu menemukan pulau
Madagaskar. Kemudian menetap disana, sebagai penghuni pulau yang belum
berpenduduk tersebut. Pulau Madagaskar merupakan pulau ke 4 terbesar di dunia
setelah Pulau Kalimantan. Pulau ini berada di kawasan Banua Afrika. Sebuah
perjalanan yang sangat panjang yang telah dilakukan suku Ma’anyan.
Tapi
mengunakan apa ya mereka berimigrasi? Jukung, perahu, atau kapal? Besar atau
kecil? Bagaimana dengan Jukung Penes?
Jukung
Penes merupakan kapal atau perahu yang dibuat dari bangun jukung. Jukung adalah
istilah yang digunakan oleh seluruh masyarakat dataran rendah Barito dan digunakan
untuk semua jenis perahu/badan kapal. Mulai sekitar 50 tahun silam ketika mesin
kapal belum diperkenalkan.
Ada
baiknya kuperkenalkan jenis-jenis Jukung kepada kalian. tapi sebelumnya akan
aku perkenalkan dulu kawanku Kakek Erik
Petersen asal Denmark. Dia adalah seorang arsitek perencana yang memilih
menetap di Kalimantan Selatan. Orang asing yang sangat terkesan dengan industri
pembuatan kapal, perahu dan jukung di daerahku.
Dari dia aku mengenal banyak tentang jenis-jenis jukung ini. Cara
membuat, jenis kayu, dan ukuran jukung serta peralatan yang digunakan. Tidak
hanya itu saja, kepadaku juga diceritakannya tentang perjalanaan (migrasi)
pernah dilakukan oleh nenek moyangku suku Ma’anyan. Yang tadi telah aku
ceritakan dan kenalkan kepadamu.
Aku
mengenal Erik Petersen dari
Prof.M.P.Lambut, seorang Guru Besar dalam bidang Pendidikan Sastra Budaya,
dosen tetap pada Program S-1 Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNLAM. Aku dan dia
mempunyai perasaan bersalah yang sama. Kami merasa hanya memberi perhatian yang
tidak berarti dan terkesan sambil lalu. Padahal ini merupakan warisan leluhur
yang tak ada duanya di dunia. Kami sama-sama merasa malu dengan Erik, dia
jauh-jauh dari Negeri Kincir-Belanda hanya untuk ditertawakan, hanya untuk
dianggap sebagai orang “aneh” . Dan itu dilakukannya hanya untuk mengenalkan “Jukung” kepada dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar